Benarkah Pendidikan Indonesia Tertinggal 1 Abad Dibandingkan Negara Maju?

Admin
0

Pendidikan Indonesia sering kali disebut-sebut tertinggal 1 abad (±128 tahun) dibandingkan dengan negara-negara maju. Klaim ini bukan sekadar omong kosong, tetapi berdasarkan penelitian ilmiah. Salah satu sumber utama dari klaim ini berasal dari Lant Pritchett, seorang profesor ekonomi pembangunan di Harvard, yang mengukur kualitas pendidikan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam penelitiannya, Pritchett menggunakan data dari OECD PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies) yang menunjukkan bahwa meskipun akses pendidikan di Indonesia sudah cukup tinggi, kualitas belajar jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Penelitiannya menemukan bahwa Indonesia membutuhkan waktu sekitar 128 tahun untuk mengejar ketertinggalan kualitas belajar di Jakarta jika dibandingkan dengan negara-negara yang lebih maju.

Fakta ini berangkat dari dua hal penting: pertama, meskipun sebagian besar anak Indonesia bersekolah, kualitas pendidikan yang mereka terima tidak mencerminkan hasil belajar yang memadai. Fenomena ini dikenal dengan istilah “schooling is not learning,” yang berarti, meski anak-anak Indonesia bersekolah, mereka tidak benar-benar memperoleh pemahaman atau keterampilan yang cukup. Kedua, meskipun banyak sekolah dibangun dan angka partisipasi sekolah tinggi, kompetensi siswa tetap stagnan selama bertahun-tahun.

PISA 2022, yang merupakan tes internasional untuk menilai kemampuan membaca, matematika, dan sains di kalangan siswa berusia 15 tahun, menunjukkan skor Indonesia yang jauh di bawah rata-rata OECD. Misalnya, dalam tes membaca, Indonesia memperoleh skor 359, sedangkan rata-rata OECD adalah 487. Hanya sekitar 25% siswa Indonesia yang mencapai level minimal dalam membaca. Begitu juga dengan matematika, di mana skor Indonesia hanya 366 dan hanya sekitar 18% siswa yang berhasil mencapai level yang cukup. Dalam sains, Indonesia mendapatkan skor 383, jauh dari rata-rata 485 dari negara-negara OECD. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun anak-anak Indonesia menghabiskan waktu di sekolah, mereka belum menguasai kompetensi dasar yang diperlukan.

Tantangan Pendidikan Indonesia tak hanya terletak pada aspek akses atau keberadaan sekolah, tetapi juga pada kualitas pengajaran dan kemampuan siswa. Ada tiga masalah utama yang menyebabkan ketertinggalan ini. Pertama, sistem pendidikan yang terlalu administratif dan fokus pada kepatuhan kurikulum, bukan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa. Banyak guru yang lebih mementingkan penyelesaian silabus dan hafalan dibandingkan dengan mengembangkan pemahaman siswa. Hal ini berkontribusi pada fenomena di mana banyak siswa yang naik kelas tanpa kemampuan membaca dan berhitung yang memadai.

Masalah kedua adalah kualitas guru yang belum merata. Banyak guru yang tidak dilatih dalam metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Seringkali pelatihan yang mereka terima hanya sebatas sosialisasi kurikulum, bukan pengembangan kemampuan pedagogi yang berbasis pada kemampuan siswa. Ditambah lagi, banyak guru yang bekerja dengan gaji yang rendah, terutama di sekolah swasta. Tidak jarang, kesejahteraan guru yang buruk ini menghambat inovasi dalam pembelajaran dan menciptakan kondisi yang kurang mendukung bagi proses pendidikan yang berkualitas.

Masalah ketiga adalah kurikulum yang sering berganti-ganti dan terlalu tinggi untuk kemampuan awal siswa. Hal ini menyebabkan siswa merasa tertinggal dan kesulitan mengejar target pembelajaran, yang akhirnya berujung pada “learning loss” atau hilangnya pengetahuan yang didapatkan. Prinsip Teaching at the Right Level (mengajar pada tingkat yang tepat) yang terbukti efektif dalam pendidikan di banyak negara berkembang, belum diterapkan secara luas di Indonesia.

Guru Harus Menjadi Profesi Profesional dengan Gaji yang Layak

Untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, guru harus dipandang sebagai profesi yang dihargai secara profesional, dengan gaji yang layak. Guru yang bekerja dengan penghasilan yang memadai akan lebih fokus pada kualitas pengajaran dan pengembangan kompetensi murid, tanpa harus merasa terbebani dengan kebutuhan finansial yang memaksa mereka mencari tambahan penghasilan di luar profesinya. Banyak guru di Indonesia, terutama yang bekerja di sekolah swasta atau sekolah-sekolah di daerah terpencil, sering kali memiliki penghasilan yang jauh dari cukup. Dalam situasi seperti ini, mereka terpaksa mencari pekerjaan sampingan atau menambah beban kerja, yang tentu saja berdampak negatif pada kualitas pengajaran di kelas.

Jika profesi guru dihargai dengan gaji yang cukup dan fasilitas yang memadai, para guru akan memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk berinovasi dalam mengajar dan berfokus pada pengembangan kemampuan siswa. Hal ini juga dapat memperbaiki motivasi guru untuk terus meningkatkan keterampilan mereka, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa. Dengan gaji yang layak, guru tidak hanya akan merasa dihargai tetapi juga lebih mampu mengelola kehidupannya secara finansial, sehingga mereka dapat mengalihkan seluruh perhatian mereka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Selain gaji yang layak, reformasi dalam pelatihan guru juga sangat penting. Pelatihan yang berfokus pada Teaching at the Right Level (TaRL) harus menjadi prioritas. Program pelatihan ini terbukti sangat efektif di banyak negara berkembang karena pendekatannya yang berbasis pada tingkat kemampuan siswa. TaRL mengutamakan penyesuaian pengajaran dengan kemampuan aktual siswa daripada mengikuti kurikulum secara kaku. Program ini tidak hanya murah, tetapi juga memberikan dampak besar dalam meningkatkan kemampuan siswa yang tertinggal. Pelatihan ini akan membantu guru mengidentifikasi kebutuhan individu siswa dan menyesuaikan metode pengajaran mereka sehingga setiap siswa dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya.

Dengan memfokuskan pelatihan guru pada pendekatan yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa, kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan secara signifikan, dan itu bisa menjadi langkah penting dalam mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan Indonesia. Selain itu, kesejahteraan guru harus menjadi perhatian yang lebih serius. Ini mencakup pemberian insentif yang layak berdasarkan kinerja dan pencapaian siswa, bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban administratif. Ketika guru merasa bahwa mereka dihargai dan diakui atas upaya mereka, mereka akan lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas pengajaran mereka.

Dengan langkah-langkah ini, pendidikan Indonesia dapat bergerak maju ke arah yang lebih baik, di mana guru berfungsi sebagai penggerak utama dalam perubahan kualitas pendidikan, dan mereka dihargai sesuai dengan profesinya yang sangat vital bagi masa depan bangsa.

Solusi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Mengatasi masalah pendidikan di Indonesia tidaklah mudah, namun solusi yang berbasis bukti tetap memungkinkan. Pertama, prioritas harus diberikan pada literasi dasar dan numerasi di sekolah dasar dan menengah pertama. Fokus pada materi yang lebih sedikit namun tuntas dan mendalam lebih baik daripada banyak materi tetapi kosong dari pemahaman yang mendalam.

Kedua, reformasi pelatihan guru harus dilakukan dengan menekankan Teaching at the Right Level (TaRL) yang telah terbukti efektif di banyak negara berkembang. Program pelatihan ini terbukti murah dan memberikan dampak besar dalam meningkatkan kemampuan siswa yang tertinggal. Selain itu, kesejahteraan guru harus menjadi perhatian serius, dengan memberikan insentif yang layak, bukan hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban administratif.

Ketiga, sekolah perlu membangun kembali otoritas yang seimbang, di mana guru memiliki wewenang untuk menegakkan disiplin dengan pengawasan yang ketat, sementara orang tua dilibatkan sebagai mitra dalam mendukung pendidikan anak, bukan sebagai pihak yang berusaha mengontrol sekolah. Terakhir, budaya kelas harus diubah dengan cara menghargai pertanyaan kritis dan menganggap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, sehingga siswa dapat berpikir lebih terbuka dan kreatif.

Pendidikan Indonesia tidak harus tertinggal karena takdir atau nasib, tetapi karena pilihan kebijakan yang salah dan implementasi yang tidak tepat. Masih ada peluang untuk memperbaikinya, dan dengan tekad yang kuat, pendidikan Indonesia bisa maju. Dengan memfokuskan pada literasi dasar, kualitas guru, dan kesejahteraan guru, serta mengubah kultur pendidikan yang ada, kita dapat mengurangi jarak yang ada dengan negara-negara maju dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Ditulis oleh: 
FONNA MIKAMAHULY, M.Pd
Guru PAI UPTD SD Negeri 2 Peusangan

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
5/related/default